0

Antara Aku dan Kau (Tugas)

Malam kembali dingin diantara puing-puing hujan yang turun dalam lingkaran bulan desember. Tugas yang semakin menumpuk seakan melambai ingin ku sentuh. Dengan tatapan sinis ku lambaikan tangan kembali tanda perpisahan. Oh tugas kau begitu memikatku tapi apa daya aku lebih suka membaca daripada menulis, dan aku lebih menyukai menggambar daripada membaca.

Dengan kekuatan yang tiada tara aku memberanikan diri di malam hari menuju pagi dengan sedikit cemas membuka perlahan demi perlahan, tugas demi tugas. Oh tidak, kau membuatku sakit perut. Sepertinya aku harus pergi ke toilet dan mulai membukamu lain hari.

Dadah tugas~

Advertisements
0

Refleksi Untuk Diriku, yang Bercita-cita Menjadi Dosen

Pagi ini aku berangkat kuliah lagi mengisi hari-hari dengan masuk kelas, tapi hari ini aku membawa satu box cupcake untuk ku tawarkan pada teman-teman supaya mereka bisa membelinya lumayan latihan untuk jadi wirausahawan sukses. (hehe)

Tapi pagi ini bukan itu masalahnya ada hal yang lebih untuk dari sekedar diperbincangkan. Di pagi hari yang gerimis namun banyak dan sang waktu menunjukkan pukul 10 lebih. Aku dan teman-teman seperjuangan sedang menunggu dosen, dan firasatku mengatakan bahwa Bapak Dosen tidak akan masuk untuk ke sekian kalinya.

Anak-anak pun memulai presentasi tanpa menunggu dosen untuk datang terlebih dahulu. Dan sampai akhir jam kuliah berdetak dosen tak kunjung datang untuk menemui mahasiswa-mahasiswa yang bersemangat mencari ilmu.

Kadang aku berpikir untuk mengajak Bapak Dosen sekedar duduk bersama dan berbincang “Pak, kami butuh ilmu bapak, kami sebenarnya tidak mempunyai pegangan jika hari-hari kuliah hanya diisi dengan sekedar presentasi. Bisakah bapak menjelaskannya lebih dalam? Hingga kita punya pegangan.”.

Kadang aku egois menginginkan dosen untuk selalu hadir dan menjelaskan materi kuliah. Padahal dosen kan punya kesibukan tersendiri bukan hanya mengajar perkuliahan saja. Tapi ini kewajibanmu pak! Ini amanah yang rakyat percayakan padamu!

0

Bangkitlah Wahai Sang Pemimpi!

Pagi yang cerah, matahari tersenyum lega menyinari hari ini dengan semilir angin lembut menyapa setiap orang yang berjalan. Hari ini penuh keajaiban, namun berbeda denganku yang sampai saat ini belum keluar rumah karena entah apa yang mempengaruhi semuanya.

Memang sulit untuk bangkit di pagi buta mengejar angan yang belum sampai pada tangan. Tapi, apakah engkau akan tetap bertahan dalam kesendirian tanpa angan-angan?

Ayo bangkitlah kawan! Gapailah angan dan cita-citamu karena engkau adalah sang penggerak peradaban. Jadilah seorang yang mampu menjadi inspirasi muslim lainnya.

Apakah dengan berdiam diri mimpimu akan tercapai? Hanya dengan menelan pahit ini dalam diam kau tak akan merasakan manisnya hidup. Namun, jika engkau menelan pahitnya hidup ini lalu diguyur airmata kehidupan, maka kesegaran yang kau dapati pahit itu akan hilang dengan senandung air mata yang kau teguk selama ini.

Ayolah kawan! Bangkit! Bangkit! Bangkit!

#ngomong sama kaca 😦

0

Angin yang berbisik

Malam yang dingin, tulang jari ini terasa kaku untuk ku gerakkan dalam lingkaran pena yang terpasung di atas kertas. Selamat malam, aku mulai memberi jalan kepada sayap sayap malam yang menyentuh tiap bait tubuhku. Kini aku tak peduli dengan cemasku, karena aku kini telah yakin akan kusergap gemuruh inspirasi yang terbang di atas awan mengelabui pandanganku, mereka bersembunyi dalam aroma kabut dinginnya malam yang seharusnya dapat kubuat mereka menjadi lembaran sajak sang angin.

Malam ini memang tak sedingin malam sebelumnya, karena harus ku akui bahwa sekarang hatiku bergemuruh. Aku tak yakin dengan gemuruh itu, namun dapat kupastikan bahwa itu adalah naluriku, bahwa aku harus menulis. Itulah aku. Mereka memergokiku sebagai orang biasa, namun dapat kupastikan diriku adalah sang penyastra yang duduk di atas awan yang hanya dapat menyaksikan ribuan pelangi yang membentang di langit dunia.

Harus ku akui, bahwa aku memang orang biasa yang orang lain tak peduli akan kehadiranku ini. Tak ada satupun yang melirikku kecuali Tuhan yang Maha Penyayang yang mengerti diriku. Namun, aku harus membuktikan bahwa diriku adalah special, aku bisa melukis ribuan kata dalam aroma heningnya malam yang mengalun lembut mengisi hari-hari yang penuh keajaiban.

Aku, bukan kamu yang dapat menjadi sang pelangi. Namun, aku hanyalah angin yang tak diketahui keberadaannya namun menyejukkan.

0

Malaikat Hidupku

Puisi ini pernah dimuat di Majalah ISMA Mahasiswa & Pelajar pada akhir tahun 2012.

——————————————————-

Dalam dekap malam-Mu ku harap semua baik-baik saja

Takkan pernah takut ku hidup bila dengannya

Dalam gelap malam dan dingin merasuk tubuhku

Ku tetap tersenyum karena dia ada di sampingku

Kau kirimkan dia untuk menjadi malaikat hidupku

Mengajariku memahami arti hidup yang ku tempuh

Mengajariku untuk selalu berdoa di keheningan malam

Mengajariku berdoa di saat cahaya pagi sudah menyengat

Kau beri aku kesempatan mencintainya

Walau kini dirinya sudah tua

Merongkoh kesakitan dengan apa yang dideritanya

Aku mohon bahagiakanlah ia kali ini saja

Senyumnya menghangatkanku bagai belaian mentari pagi saat dhuha tiba

Airmatanya membuatku menangis dalam heningnya sepertiga malam

Air wudhunya bercahaya bagaikan embun pagi terkena cahaya pagi

Matanya bersinar bagai bulan purnama menerangi malamku

Ya Allah cintailah ia

Yang ikhlas berkorban dalam membesarkan aku

Ya Rabbi bagiku Ibuku wanita mulia

Penuh pengampunan yang selalu ku sayang

Sayangilah ia sebagaimana ia menyayangiku

Sewaktu ku kecil dulu

—————————————-

Cianjur, 25 September 2012

0

Hati Yang Rapuh

Terlintas anganku kini,
Mencipta hidup bersemi,
Tak sedikitpun menjadi iri,
Karena ku bahagia nanti.

Kau berikan perhatianmu
Hingga sampai kita bertemu
Angin berhembus terus menyapu
Pengharapanku kini tak bisu.

Sejauh kini ku t’rus jalani
Mengharap semua akan terjadi
Bimbang kini lengkapi semi
Yang dulu kurasa sangat berarti

Kau buat diriku rapuh
Ketika kau bergerak jauh
Menjauh sangat menjauh
Tak dapat ku gapai dirimu sungguh

Kemana kamu yang dulu
Perhatianmu hilang, oh sungguh
Kini sebuah hati telah rapuh
Menunggumu kembali senyum padaku

 

-( Cianjur, 25 September 2012 )-

0

Selembut Embun, Sehangat Mentari Pagi

Ibu,
Mengapa Aku mulai menangis
Saat mulai kususuri jalan panjang ini
Yang menghantarkan pada cita-citaku.

Ibu,
Mengapa engkau begitu tabah?
Ketika Aku disini
Walau Aku kadang mencabik hatimu
Kau tetap bertahan

Ibu,
Mengapa Aku menangis?
Saat kususuri jalan ini
Yang sekarang Aku pun ingin mengubah haluan

Ibu,
Maafkan Aku Ibu..
Dalam heningnya jalan ini
Terbayang wajah cantik menarik
Teduh menawan
Indah tersenyum
Itu semua tentangmu Ibu..

Ibu,
Apa salah Aku menangis?
Ku merasakan kerinduan
Kerinduan terdalam dari qalbuku

Ibu,
Doamu bagai mentari pagi
Menyinari namun hangat
Senyummu bagai embun pagi
Lembut nan sejuk dipandang.

Tentangmu…

Oleh:
– A. F. Ginanjar –