0

Sayup-sayup Kecil Menangis

Sungguh terharu melihat orang lain masih mempunyai Ayah. Orang yang menjadi panutan, pemimpin, penyemangat, pengingat, dan lainnya. Ketika pulang bisa bertemu, ketika jauh pun menelpon.

Sungguh sedih jika disesali. Orang lain merayakan hari Ayah dengan memberikan kado, jalan-jalan, dan mungkin sekedar ‘quality time’ mengobrol bersama. Tapi, aku hanya bisa melihatmu dibalik jendela bersembunyi di atas sayup-sayup awan, dan menangis diantara tangisan hujan.

Ayah, mengapa kau pergi secepat itu. Bahkan, aku tak sempat memperlihatkan raport ranking satu ku kepadamu. Kau pergi terlalu cepat, namun kepergian ini hanya menyesakkan dada. Apa kau tak mau melihatku ranking pertama? Atau kau sudah percaya bahwa aku terlalu pintar untuk mendapatkannya?

Oh Ayah, ku harap kita bisa bertemu di surga-Nya Allah. Berkumpul dengan Ibu, Kakak, Kakek, Nenek, dan semua keluarga. Aku rindu. Bukan rindu seorang pujangga, tapi rindu seorang laki-laki.

Ya Allah. Berikanlah tempat terbaik untuk Ayah. Ampunilah semua dosanya, jadikan ia sebagai penghuni surga-Mu Ya Rabb.

Advertisements